M Ridwan Habibie A
Penulis
|
Muklis Purwanto
Editor
HARIANEXPRESS, PRINGSEWU– KUA Kecamatan Pardasuka menggelar Shalat Istisqa di Lapangan Garuda, Kecamatan Pardasuka, Jumat (11/9/2026).
Pelaksanaan ibadah itu menjadi ikhtiar bersama masyarakat untuk memohon turunnya hujan kepada Allah SWT di tengah kondisi kemarau.
Berdasarkan keterangan Ust. Kharis, Shalat Istisqa berlangsung pada Jumat pagi di Lapangan Garuda, Pardasuka. Jamaah dari masyarakat sekitar mengikuti rangkaian ibadah secara bersama-sama.
Shalat Istisqa dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar spiritual umat Islam ketika menghadapi kondisi kekeringan dan membutuhkan turunnya hujan. Momentum ini juga menjadi ruang untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak istighfar, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam pelaksanaannya, Ustadz Ahmad Syahida Alhadi, S.H.I. bertugas sebagai imam Shalat Istisqa, sedangkan Ustadz Abdul Mun’im bertugas sebagai khatib.
Drs. H. Zainudin Fanani selaku Kepala KUA Pardasuka turut hadir dalam pelaksanaan ibadah tersebut. Camat Pardasuka Subur Setiyo Widodo, S.Pd., M.Pd. juga hadir bersama masyarakat yang mengikuti Shalat Istisqa.
Pelaksanaan Shalat Istisqa menjadi sarana bagi masyarakat untuk bersama-sama bermunajat dan memohon kepada Allah SWT agar diberikan hujan yang membawa manfaat serta keberkahan.
Dalam rangkaian ibadah, jamaah mengikuti shalat kemudian mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh khatib. Jamaah juga diajak memperbanyak doa dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Kondisi kemarau turut menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan. Penggunaan sumber daya air secara bijaksana menjadi salah satu bentuk kepedulian yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Shalat Istisqa di Lapangan Garuda juga memperkuat kebersamaan masyarakat Pardasuka. Warga, tokoh agama, dan unsur pemerintahan berkumpul dalam satu tempat untuk melaksanakan ibadah dan memanjatkan doa.
Ust. Kharis menyampaikan bahwa pelaksanaan Shalat Istisqa merupakan bagian dari ikhtiar bersama masyarakat untuk memohon pertolongan Allah SWT. Menurutnya, doa juga perlu disertai upaya nyata dalam menghadapi kondisi kekeringan.
Shalat Istisqa tidak hanya menjadi momentum untuk memohon turunnya hujan, tetapi juga pengingat bagi umat Islam untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki diri.
Doa dan istighfar menjadi bagian dari ikhtiar spiritual yang dilakukan secara bersama-sama. Kebersamaan jamaah dalam pelaksanaan ibadah tersebut juga mencerminkan kepedulian terhadap kondisi yang sedang dihadapi masyarakat.
Kondisi kekeringan dapat memberikan dampak terhadap berbagai aktivitas masyarakat, termasuk kebutuhan air dan lingkungan sekitar. Karena itu, kepedulian terhadap ketersediaan air tetap menjadi perhatian dalam kehidupan sehari-hari.
Kehadiran tokoh agama dan unsur pemerintahan dalam pelaksanaan Shalat Istisqa turut memperlihatkan dukungan terhadap kegiatan ibadah bersama di wilayah Pardasuka.
Bagi masyarakat yang mengikuti, pelaksanaan Shalat Istisqa menjadi kesempatan untuk bermunajat secara bersama-sama. Harapan terhadap turunnya hujan disampaikan melalui doa dan ibadah yang dilakukan di ruang terbuka.
Pelaksanaan ibadah tersebut juga menjadi momentum untuk mengingat kembali hubungan manusia dengan Allah SWT. Introspeksi, istighfar, dan doa menjadi bagian yang menyertai ikhtiar masyarakat menghadapi kemarau.
Masyarakat Pardasuka berharap hujan segera turun dan memberikan manfaat bagi kehidupan warga, pertanian, serta lingkungan sekitar.
Rangkaian Shalat Istisqa kemudian ditutup dengan doa bersama sebagai bentuk pengharapan kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan sebagai rahmat, keberkahan, dan kemaslahatan bagi masyarakat Pardasuka dan sekitarnya.


