Kamis, 27 Agustus 2026
Hot

Ekspor Perdana Tapioka Lampung Tembus China, 3.330 Ton Bernilai Rp26 Miliar

Article ad before first paragraph

M.Ridwan H.A Penulis | Mukhlis Editor

LAMPUNG, HARIANEXPRESS — Momentum penting bagi sektor industri berbasis pertanian di Provinsi Lampung kembali tercatat melalui pelepasan ekspor perdana tepung tapioka ke pasar internasional. Kegiatan tersebut berlangsung di Pelabuhan Panjang, Selasa (05/05/2026), dan menjadi langkah strategis dalam memperluas jangkauan komoditas unggulan daerah ke kancah global.

Dalam kegiatan tersebut, Bupati Tulang Bawang Barat (Tubaba), Novriwan Jaya, turut hadir bersama sejumlah pejabat daerah dan pemangku kepentingan lainnya. Kehadiran para pimpinan daerah ini menunjukkan dukungan penuh terhadap penguatan industri hilir berbasis komoditas singkong yang selama ini menjadi salah satu andalan Lampung.

Ekspor perdana ini dilakukan oleh CV Central Intan dengan tujuan pasar China. Total volume yang dikirim mencapai 3.330 ton tepung tapioka dengan nilai transaksi sekitar Rp26 miliar. Angka tersebut menjadi indikator positif bahwa produk lokal Lampung mampu bersaing di pasar internasional.

Article ad in the middle of article

Pelepasan ekspor secara simbolis dilakukan langsung oleh Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, bersama CEO Intan Group, Jeremi Gozal. Kegiatan ini juga melibatkan berbagai pihak, termasuk Pelindo, Badan Karantina Indonesia, serta dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Lampung.

Dalam sambutannya, Gubernur Lampung menegaskan bahwa ekspor ini merupakan tonggak penting dalam upaya meningkatkan daya saing industri tapioka di tingkat global. Ia menyebutkan bahwa kualitas produk Lampung kini telah mampu memenuhi standar pasar internasional.

“Ini menjadi bukti bahwa produk kita mampu bersaing, baik dari sisi kualitas maupun harga. Ke depan, kita harus terus meningkatkan produktivitas agar peluang pasar semakin terbuka luas,” ujarnya.

Bahan baku singkong yang digunakan dalam produksi tepung tapioka tersebut berasal dari berbagai daerah sentra di Lampung, seperti Lampung Tengah, Lampung Timur, Lampung Barat, Tulang Bawang, dan Tulang Bawang Barat. Hal ini menunjukkan keterlibatan luas petani lokal dalam rantai produksi industri tersebut.

Keterlibatan banyak daerah dalam penyediaan bahan baku juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan, khususnya bagi para petani singkong. Dengan meningkatnya permintaan ekspor, harga komoditas di tingkat petani diharapkan menjadi lebih stabil dan menguntungkan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah pejabat penting, di antaranya Kapolda Lampung Helfi Assegaf, Plt Deputi Karantina Tumbuhan Drama Panca Putra, Ketua DPRD Tubaba Busroni, serta Ketua Harian HKTI Umar Ahmad. Kehadiran mereka mencerminkan sinergi lintas sektor dalam mendukung penguatan industri daerah.

Gubernur juga mengakui bahwa pada tahun sebelumnya industri tapioka Lampung sempat menghadapi tantangan, terutama dalam hal persaingan harga di pasar. Namun, dengan terbukanya akses ekspor, kondisi tersebut mulai mengalami perbaikan.

“Sebelumnya kita kalah dalam persaingan harga, tetapi sekarang dengan adanya ekspor, perputaran ekonomi mulai terasa hingga ke tingkat petani,” jelasnya.

Pemerintah Provinsi Lampung saat ini terus mendorong peningkatan kualitas produksi melalui pengembangan bibit unggul singkong. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kadar pati serta produktivitas hasil panen, sehingga berdampak langsung pada peningkatan nilai jual produk.

Selain itu, pemerintah juga berkomitmen untuk memperkuat kemandirian sektor pertanian dengan mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah maupun luar negeri. Salah satu langkah yang diambil adalah menghentikan praktik impor singkong ke wilayah Lampung.

“Impor itu cerita lama. Sekarang kita fokus memperkuat produksi dalam negeri agar petani kita semakin sejahtera,” tegas gubernur.

Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan daya saing produk lokal, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. Industri tapioka dinilai memiliki potensi besar sebagai sektor unggulan yang mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan adanya ekspor perdana ini, Lampung semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah penghasil singkong terbesar di Indonesia. Ke depan, peluang ekspor diharapkan semakin terbuka lebar seiring peningkatan kualitas produk dan dukungan infrastruktur yang memadai.

Keberhasilan ini juga menjadi sinyal positif bagi pelaku usaha lainnya untuk terus mengembangkan produk berbasis komoditas lokal agar mampu menembus pasar global.

Article ad after last paragraph