Harian Express, Bandar Lampung – Anggota Komisi II DPRD Lampung, Mikdar Ilyas, mendesak Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melibatkan pihak profesional merancang konsep Festival Krakatau 2026 demi inovasi, daya tarik wisata, dan dampak ekonomi daerah. (16/07/2026)
Festival Krakatau 2026 dijadwalkan berlangsung pada 25–30 Agustus 2026 di Bandar Lampung. Pembukaan acara akan dipusatkan di Lapangan Saburai, Enggal.
Menurut Mikdar, Festival Krakatau merupakan agenda tahunan serta ikon pariwisata Lampung. Oleh karena itu, penyelenggara harus mengevaluasi menyeluruh pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya untuk terus meningkatkan kualitas festival.
“Festival Krakatau ini agenda rutin setiap tahun. Dinas terkait harus mempelajari dan mengkaji apa yang sudah baik dan apa yang masih menjadi kekurangan pada pelaksanaan sebelumnya. Hal-hal yang masih kurang harus dicarikan jalan keluarnya,” kata Mikdar, Kamis (16/07/2026).
Konsep Festival Krakatau tidak boleh berjalan dengan pola yang sama setiap tahun. Inovasi menjadi kunci agar festival tetap memiliki daya tarik di tengah banyaknya agenda pariwisata daerah lain.
“Jangan sampai konsepnya itu-itu saja. Harus ada nuansa baru yang membuat masyarakat tertarik datang. Kalau ada program yang sudah bagus, dipertahankan dan ditingkatkan. Tetapi kalau ada konsep baru yang lebih menarik, tentu harus ditampilkan,” ujarnya.
Pelibatan pihak profesional dinilai penting agar Festival Krakatau memiliki konsep lebih matang dan kreatif. Hal ini diperlukan supaya festival mampu bersaing dengan agenda berskala nasional.
“Kita mendorong dinas terkait mengajak pihak-pihak yang profesional untuk merancang Festival Krakatau agar semakin diminati. Harapannya, wisatawan dari berbagai provinsi datang ke Lampung bukan hanya untuk berkunjung, tetapi memang menjadikan Festival Krakatau sebagai salah satu tujuan utama,” tegasnya.
Selain mengedepankan konsep kreatif, Mikdar juga meminta Festival Krakatau menjadi etalase budaya Lampung. Ini dilakukan dengan memberi ruang bagi seluruh kabupaten dan kota menampilkan kekayaan adat serta kearifan lokal.
Setiap marga di Lampung memiliki ciri khas yang dapat menjadi daya tarik wisata. Kekayaan tersebut meliputi pakaian adat, bahasa, hingga kesenian tradisional.
“Kita ingin masyarakat luar mengetahui bahwa Lampung memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Setiap daerah memiliki keunikan yang layak ditampilkan dalam Festival Krakatau,” katanya.
Tak kalah penting, Mikdar meminta pemerintah daerah memperluas keterlibatan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tujuannya agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Festival Krakatau tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana promosi produk unggulan Lampung. Produk tersebut meliputi keripik singkong, kopi, tiwul, dan berbagai olahan lainnya.
“UMKM harus dilibatkan lebih banyak. Semakin banyak pelaku usaha yang ikut serta, semakin banyak pilihan produk bagi wisatawan. Ini menjadi kesempatan memperkenalkan produk unggulan Lampung sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” pungkasnya.


